Jumat, 18 Desember 2015

teori-teori kedaulatan



TEORI-TEORI KEDAULATAN

1.      Teori Kedaulatan Tuhan

Teori Kedaulatan Tuhan merupakan teori kedaulatan yang pertama dalam sejarah, mengajarkan bahwa Negara dan pemerintah mendapat kekuasaan tertinggi dari Tuhan sebagai asal segala sesuatu (Causa Prima). Menurut teori Kedaulatan Tuhan, kekuasaan yang berasal dari tuhan itu diberikan kepada tokoh-tokoh Negara terpilih, yang secara kodrati diterapkan-Nya menjadi pemimpin Negara dan berperan selaku wakil Tuhan di dunia. Teori ini umumnya dianut oleh raja-raja yang mengaku sebagai keturunan dewa, misalnya para raja Mesir Kuno, Kaisar Jepang, Kaisar China, Raja Belanda (Bidde Gratec Gods, kehendak Tuhan), Raja Ethiopia (Haile Selasi, singa penakluk dari suku Yuda pilihan Tuhan). Demikian pula dianut oleh para raja Jawa zaman Hindu yang menganggap diri mereka sebagai penjelmaan dewa Wisnu. Ken Arok bahkan menganggap dirinya sebagai titisan Brahmana, Wisnu, dan Syiwa sekaligus
Pelopor teori kedalulatan tuhan antara lain : Augustinus (354-430), Thomas Aquino (1215-1274), F. Hegel (1770-1831) dan F.J. Stahl (1802-1861).
Karena berasal dari Tuhan, maka kedaulatan Negara bersifat mutlak dan suci. Seluruh rakyat harus setia dan patuh kepada raja yang melaksanakan kekuasaan atas nama dan untuk kemuliaan Tuhan. Menurut Hegel, raja adalah manifestasi keberadaan Tuhan. Maka, raja atau pemerintah salalu benar, tidak mungkin salah.

2. Teori Kedaulatan Raja

Dalam Abad Pertengahan Teori Kedaulatan Tuhan berkembang menjadi Teori Kedaulatan Raja, yang menggap bahwa raja bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Kekuasaan raja berada di atas konstitusi. Ia bahkan tidak perlu menaati hukum moral agama, justru karena statusnya sebagai representasi atau wakil Tuhan di dunia, maka pada saat itu kekuasaan raja berupa tirani bagi rakyatnya.
Peletak dasar utama teori ini adalah Niccolo Machiavelli (1467-1527) melalui karyanya, II Principle.  Ia mengajarkan bahwa Negara harus dipimpin oleh seoran Raja yang berkekuasaan mutlak. Sedangkn Jean Bodin menyatakan bahwa kedaulatan Negara memang dipersonifikasikan dalam pribadi raja, namun raja tetap harus menghormati hukum kodrat, hukum antar bangsa, dan konstitusi kerajaan (leges imperii). Di Inggris, teori ini dikembangkan oleh Thomas Hobes (1588-1679) yang mengajarkan bahwa kekuasaan mutlak seorang raja justru diperlukan untuk mengatur Negara dan menghindari homo homini lupus.

3. Teori Kedaulatan Negara
Menurut teori Kedaulatan Negara, kekuasaan tertinggi terletak pada Negara. Sumber kedaulatan adalah Negara, yang merupakan lembaga tertinggi kehidupan suatu bangsa. Kedaulatan timbul bersamaan dengan berdirinya suatu Negara. Hokum dan konstitusi lahir menurut kehendak Negara, dan diabdikan kepada kepentingan Negara. Para penganut teori ini melaksanakan pemerintahan tiran, teristimewa melalui kepala Negara yang bertindak sebagai dictator.
Pengembangan teori Hegel menyebar di Negara-negara komunis. Peletak dasar teori antara lain: Jean Bodin (1530-1596), F.Hegel (1770-1831), G.Jellinek (1851-1911), Paul Laband (1879-1958).

4. Teori Kedaulatan Hukum
Berdasarkan pemikiran teori Kedaulatan Hukum, kekuasaan pemerintah berasal dari hukum yang berlaku. Hukumlah (tertulis maupun tidak tertulis) yang membimbing kekuasaan pemerintah. Etika normatif Negara yang menjadikan hukum sebagai “panglima” mewajibkan penegakan hokum dan penyelenggaraan Negara dibatasi olh hokum. Pelopor teori kedaulatan hokum antara lain : Hugo de Groot, Krabbe, Immanuel Kant dan Leon Daguit.  

5. Teori Kedaulatan Rakyat atau Teori Demokrasi
Teori kedaulatan rakyat menyatakan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat (teori ajaran demokrasi). Pemerintah harus menjalankan kehendak rakyat dan konstitusi menjamin hak asasi manusia.  

Beberapa pandangan pelopor teori kedaulatan Rakyat :
a.       JJ. Rousseau
JJ. Rousseau Menyatakan bahwa kedaulatan itu perwujudan dari kehendak umum dari suatu bangsa merdeka yang mengadakan perjanjian masyarakat (social contract).

b.      Johanes Althusius
Johanes Althusius menyatakan bahwa setiap susunan pergaulan hidup manusia terjadi dari perjanjian masyarakat yang tunduk kepada kekuasaan, dan pemegang kekuasaan itu dipilih oleh rakyat.

c.       John Locke
John Locke menyatakan bahwa kekuasaan Negara berasal dari rakyat, bukan dari raja. Menurutnya, perjanjian masyarakat menghasilkan penyerahan hak-hak rakyat kepada pemerintah dan pemerintah mengembalikan hak dan kewajiban asasi kepada rakyat melalui peraturan perundang-undangan.

d.      Mostesquieu
Mostesquieu membagi kekuasaan Negara menjadi : kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif (Trias Politica).

ETIKA POLITIK



ETIKA POLITIK 

Etika politik adalah filasafat moral tentang dimensi pilitis manusia, fungsi etika politik adalah dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoritis untuk mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab, jadi tidak berdasarkan emosi, prasangka, dan apriori, melainkan secara rasional, obyektif dan argumentatif. Adalah salah ketika kita etika politik langsung mau mencampuri politik praktis. Tugas etika politik adalah sebagai subsider: membantu agar rmasalah-masalah ideology dapat dijalankan secara obyektif, artinya berdasarkan argument-argument yang dapat dipahami dan ditanggapi oleh semua yang mengerti permasalahan. Etika politik tidak mengkhotbai para politikus, tetapi dapat memeberikan patokan-patokan orientasi dan pegangan-pegangan normative bagi mereka yang mau memiliki kualitas tatanan dan kehidupan politik dengan tolak ukur martabat manusia.

Dalam rangka dimensi-dimensi kesosialan manusia itu dimensi politis manusia mencakup untuk lingkaran kelembagaan hukum dan Negara da sistem-sistem nilai dan idelogi-ideologi yang memberikan legitimasi kepadanya. Dimensi politis manusia adalah dimensi masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi yang menjadi ciri khas suatu pendekatan yang disebut "politis" adalah bahwa pendekatan itu terjadi dalam kerangka acuan yang berorientasi pada masyarakat sebagai keseluruhan. Sebuah keputusan bersifat politis apabila diambil dengan memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan.suatu tindakan disebut politis apabila menyangkut masyarakat secara keseluruhan. Politisi adalah orang yang mempunyai profesi yang mengenai masyarakat secara keseluruhan.seorang bukan politis pun ,engambil suatu sikap politik apabila ia dalam sikap itu mengacu pada masyarakat sebagai keseluruhan. Dengan demikian dimensi politis manusia dapat ditentukan sebagai dimensi di mana manusia menyadari diri sebagai anggota masyarakat sebagai keseluruhan yang menentukan kerangka kehidupannya dan ditentukan kembali oleh tindakan-tindakannya.

Inti permasalahan etika politik adalah masalah legitmsi etis kekuasaan yang dapat dirumuskan dalam pertanyaan: denga hak moral apa seseorang atau sekelompok orang memegang dan mempergunakan kekuasaan yang mereka miliki, betapapun kekuasaa seseorang, ia selalu dapat dihadapkan pada tuntutan untuk mempertanggungjawabkannya. 

Bila kita mendengar kata "politik'',maka yang ada dalam benak kita adalah partai-partai politik atau suatu cara yang ditempuh seseorang dalam pencapaian tujuannya.orang sering menyamakan politik dengan kekuasaan, menghalalkan segala cara dengan mengesampingkan pedoman-pedoman hidup demi tercapainya suatu tujuan. Hoogerwerf (1979:45)"siapa memperoleh apa, bilamana, dengan cara apa". begitulah kira-kira gambaran buruk tentang politik. Nilai negative pada politik membuat kita bertanya apa eksistensi politik itu. pada tanggal 5 juli nanti seluruh rakyat Indonesia akan megadakan pemilihan umum untuk memilih seorang calon presiden, pemilu sekarang ini berbeda dengan pemilu sebelumnya karena rakyat sendiri yang akan menentukan pilihan siapa calon presidennya. Dalam masa kampanye para kandidat presiden mengeluarkan buah pikiran untuk menata masyarakat Indonesia pada masa akan datang yaitu berupa visi dan misi yang akan dijalankan.dari semua visi dan misi yang ditawarkan masing-masing kandidat presiden menurut saya tidak ada yang jelek, namun yang menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana visi dan misi tersebuit bisa dijalankan sesuai harapan dan cita-cita bangsa Indonesia.

Menurut kusumaatmadja (2004:Online)Seorang politisi yang hanya sekedar cerdas dan berpengetahuan bisa memunculkan visi, namun visi itu tidak menyentuh hati nurani orang banyak karena sang politisi yang pandai tersebut tidak memancarkan nilai-nilaiyang menjadikannya layak dipercaya. visi adalah sekunder dan yang primer adalah moralitas politik.
Problem besar yang telah menyeret negeri ini ke dalam situasi krisis yang paling berkepanjangan adalah hilangnya penghargaan terhadap nilai (value). Nilai-nilai seperti kesederhanaan, kejujuran, ketekunan, kerja keras, serta berbagai nilai positif lainnya semakin tidak dihargai dalam kehidupan masyarakat kita saat ini, malah dicemoohkan.

Budaya instan yang semakin kuat berkembang telah meminggirkan penghargaan terhadap berbagai nilai tersebut. Maraknya korupsi dan politik uang, kasus caleg yang berijazah palsu serta berbagai kasus lainnya, semakin mempertegas betapa saat ini tujuan menghalalkan cara. Demi mempertahankan dan atau meraih kedudukan dan kekuasaan, segala cara dilakukan termasuk menggunakan kekerasan. Membayar menjadi celeg dengan nomor urut jadi sudah menjadi hal yang umum dan wajar, karena jabatan dan kekuasaan dipandang sebagai kendaraan yang efektif untuk secara instant menjadi kaya, ini sekaligus juga meningkatkan status sosial untuk mendapatkan penghargaan dan penghormatan, ungkapan bahwa "politik kotor" menjadi pembenaran terhadapa perilaku politik yang menerabas nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pegangan bersama hilangnya penghaegaan terhadap nilai memberi montribusi yang sangat besar terhadap kekacauan yang terjadi selama ini dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, serta menjadi pengahambat bagi berkembangnya kehidupan demokrasi yang sehat.hal. ini merupakan upaya awal untuk mengkonsolodasi kembali penghargaan terhadap nilai (value) agar menjadi landasan utama guna menyehatkan kehidupan perpolitikan di tanah air.

Nilai yang dianut oleh seseorang atau komunitas dapat dilihat dari sikap-sikap yang muncul, tidak hanya lewat ucapan. Bahkan salah satu ukuran untuk melihat nilai yang dianut seorang politisiadalah dari pendiriannya dalam menaggapi masalah-masalah kemasyarakatan serta juga sikapnya dalam membawa diri dalam jabatan publik. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui sikap-sikap dasar dari seorang politisi, karena pendapat serta keputusan politik maupun kompromi-kompromi yang dilakukanya merupakan refleksi dari nilai-nilai politik yang dianutnya.kalau sang politisi tersebut memantulkan konsistensi antara nilai-nilai yang dianutnya dengan gaya hidupnya, dengan caranya berkomunikasi maupun melalui pendekatannya ketika merumuskan keputusan, juga kompromi politik, maka orang tersebut bisa disebut sebagai oaring yang mempunyai integritas.

Kalau publik sudah yakin bahwa seseorang mempunyai integritas, maka dia menjadi orang yang dapat dipercaya dan dengan demikian dapat melakukan tugas politknya dengan modal sosial yang mendasar yang namanya kepercayaan (trust). Pihak yang berpendapat beda, bahkan yang ideologinya beda pun dapat mempercayainya, sehingga perdebatan yang terjadi akan selalu membawa konvergensi. Kalau interaksi politik dilakukan dalam iklim saling mempercayai, maka aka timbul modal sosial yang kedua yaitu harapan (hope). 

Cobalah kita renungkan apa yang terjadi di Indonesia yang kita cintai ini. Kalau bisa disimpulkan secara sederhana yang terjadi adalah krisis kepercayaan yang kemudiaan menciptakan hilangnya harapan akan masa depan. Hilangnya kedua modal sosial tadi, yaitu kepercayaan dan harapan, menyebabkan kita tidak kunjung bisa mencari solusi berbagai problem besar bangsa ini seperti korupsi, kolusi, nepotism, kekerasan, ketidakbecusan dan gejala rasa mati.oleh karena itu politik berbasis nilai mempunyai fungsi yang penting dalam memulihkan krisis yang melanda bangsa. Nilai-nilai yang baik jika dipraktekkan oleh seseorang yang punya integritas, akan menciptakan dua modal sosial yang amat berharga yaitu kepercayaa dan harapan. Jika pemimpn konsisten mengembangkan kepercayaan dan harapan maka solusi pun muncul seperti sinar ditengah kegelapan. Ketika itu visi menjadi penting, karena visi itu hanya berguna dalam suasana pencerahan. Oleh karena itu visi hanya berguna sebagai konsekuensi dari nilai.,,"the red"

filsafat pendidikan konstruktivisme dan filsafat pendidikan nasional



Filsafat Pendidikan Konstruktivisme

Filsafat Konstruktivisme memberikan kontribusi yang berarti dalam dunia pendidikan terlebih dalam bidang pendidikan sains dan matematika. Menurut Konstruktivisme sebuah kenyataan itu fenomena bagi yang menangkapnya dan dipahami betul-betul. Seseorang  mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa saja yang membangun pengetahuannya itu dan mengetahui bagaimana membuat atau mewujudkan sesuatu itu.

Menurut aliran konstruktivisme manusia itu harus aktif untuk membangun dan mencari pengetahuannya. Proses menjadi manusia ada dalam hubungan dengan lingkungannya, baik itu di lingkungan alam ataupun lingkungan manusiawinya. Pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan yang ada, namun merupakan bentukan kenyataan dari kegiatan seseorang.

Bagi Konstrutivis kebenaran pengetahuan ituada tingkatannya, karena apabila kita menghadapi permasalahan belum tentu pengetahuan tersebut sesuai untuk memecahkan permasalahan tersebut, sehingga ada pengetahuan yang berlaku hanya untuk masalah tertentu saja adapula pengetahuan yang memang bisa berlaku untuk bisa menjadi solusi segala macam permasalahan.

Kontruksivisme beranggapan bahwa kegiatan pendidikan itu bukanlah suatu kegiatan memindahkan ilmu atau memindahkan pengetahuan dari seorang guru ke muridnya, namun guru berperan untuk membangun pengetahuan dalam diri siswa itu sendiri, memancing siswa untuk bisa bersikap kritis.

 Dengan ini dapat diketahui bahwa menurut kontruksivisme bahwa pendidikan itu bertujuan untuk lebih memfokuskan pada perkembangan konsep dan pengetahuan yang merupakan hasil dari pembangunan pengetahuan yang aktif oleh siswa itu sendiri.Karena siswa dituntut aktiv untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri maka kurikulum yang digunakan pun harus bisa ditemukan oleh diri siswa itu sendiri.

Aliran filsafat ini menurut saya banyak ketidakpastian, karena apabila seorang siswa harus mencari sendiri bagaimana pengetahuan itu dapat ia peroleh dan dapat dia bangun dalam dirinya maka mungkin banyak siswa yang kebingungan, seharusnya ini merupakan tugas seorang pendidik untuk dapat mengidentifikasi setiap anak didiknya untuk dapat memberikan kenyamanan dalam mentransfer ilmu yang pendidik miliki.

Filsafat Pendidikan Nasional:Pancasila

Pancasila merupakan dasar dan filsafat hidup bagi negara kita, Negara Republik Indonesia. Maka sesungguhnya negara kita memiliki filosofis pendidikan sendiri dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia perlu mengkaji nilai yang terkandung dalam pancasila untuk dijadikan titik balik untuk praktek pendidikan di Indonesia.

Bangsa Indonesia meyakini bahwa adanya alam semesta ini tidak hanya ada begitu saja namun ada yang menciptakan yaitu Tuhan YME. Begitupun manusia, manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Manusia diberi potensi oleh Tuhan untuk dapat beriman dan berbuat baik,akan tetapi manusia pun dapat melakukan kejahatan karena Tuhan pun memberikan hawa nafsu dalam diri manusia.Manusia bisa memperoleh pengetahuan melalui utusan Tuhan ataupun lewat alam semesta dan termasuk hukum-hukumnya. Tuhan merupakan sumber pengetahuan yang utama dan  sumber pertama segala nilai.

Menurut aliran ini pendidikan adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik dapat aktif mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik. Karena pendidikan merupakan usaha yang sadar maka pendidikan pasti mempunyai tujuan  yang jelas, maka menurut aliran ini tujuan dari pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, mandiri, menjadi warga negara yang baik. Tidak seperti aliran-aliran lainnya yang menerakan kurikulum secara menyeluruh namun di Negara kita Indonesia ini kurikulum disusun sesuai tingkatan jenjang pendidikan.

Maka untuk itu seorang pendidik harus bisa menjadi teladan bagi peserta didik,dan pendidik pun harus bisa memberikan siswa kesempatan untuk dapat belajar mandiri. Pada hakikatnya pendidikan diletakan pada usah untuk dapat menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik agar tidak hanya bisa mencapai perubahan namun juga diharapkan para peserta didik dapat menjadi agen atau pelopor dari suatu perubahan.

Setiap aliran dalam filsafat pendidikan pasti berusaha untuk menghasilkan pemikiran yang  sempurna untuk diterapkan dalam sistem pendidikan, begitupun dengan aliran filsafat pendidikan nasional, pancasila, sistemnya sudah cukup baik namun mungkin penerapannya saja yang masih banyak kekurangan, karena pendidik terkadang masih sulit untuk bisa mengidentifikasi potensi yang terdapat dalam diri peserta didik sehingga pendidik belum dapat mengarahkan ataupun mengembangkan petensi yang masih terpendam dalam diri peserta didik.



filsafat pendidikan scholastisisme dan esensialisme



Filsafat Pendidikan Scholastisisme

Aliran dalam filsafat pendidikan lain diantaranya adalah scholastisisme, dalam aliran ini para filsuf scholastisime meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini merupakan ciptaan Tuhan. Sehingga Tuhan merupakan Pencipta dan Sumber Kebenaran sejati. Manusia dapat memperoleh kebenaran yang sejati tersebut dengan keimanan, namun para filsuf scholastisisme pun tidak memungkiri bahwa kebenaran dapat kita dapatkan dengan cara berfikir mengenai benda-benda yang nyata. Manusia hidup di dunia harus selalu berbuat kebaikan agar manusia dapat dekat dengan Tuhan karena Tuhan merupakan kebaikan terakhir dan tujuan hidup manusia adalah untuk kembali kepada Tuhan.

Dari beberapa uraian mengenai aliran scholastisisme diatas para calon pendidik dapat menerapkan pemikiran aliran scholastisisme tersebut dalam pendidikan dengan menggunakan kurikulum pendidikan yang tidak hanya berisi tentang pengetahuan tentang ilmu kemanusiaan saja, namun juga isi pendidikan harus berisi tentang ilmu agama, karena sesuai dengan tujuan pendidikan menurut aliran scholastisisme yaitu pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelektual saja atau bukan hanya untuk bekal kehidupan bahasia di dunia saja karena manusia juga harus diberi pengetahuan tentang agama, dengan pengetahuan agama manusia diharapkan bisa dekat dengan Tuhan, untuk mencapai hidup selamat di dunia dan akherat.

Dalam hal ini seorang guru diharapkan dapat menjadi teladan yang baik untuk siswa, guru juga harus dapat berbuat kebajikan sehingga apabila sikap guru yang selalu berbuat kebajikan dan dapat ditiru oleh siswanya maka tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai, namun tidak lupa pula guru harus tetap dapat memberi siswa bantuan untuk dapat mengembangkan pengetahuan umum, terampil dalam berpikir.

Aliran scholastisisme menurut saya sudah hampir sempurna, karena dalam pendidikan siswa tidak hanya dibimbing dalam pengetahuan intelektual saja namum diarahkan untuk menjadi manusia yang dapat meraih kebahagiaan di dunia dan akherat.

Esensialisme

Sama halnya dengan progresivisme, esensialisme merupakan gerakan  pendidikan dan juga sebagai bagian dari aliran filsafat pendidikan. Esensialisme didukung oleh aliran filsafat Idealisme dan Realisme. Namun walaupun Idealisme dan Realisme mendukung Esensialisme namun mereka tidak menyatu karena masing-masing aliran tersebut masih tetap pada pendapatnya.

Esensialisme berkeyakinan bahwa dunia ini dikuasai oleh tata atau order tertentu yang mengatur dunia ini, sehingga perilaku manusia, benda-benda yang ada di dunia ini harus sesuai dengan tata tersebut. Dalam aliran ini berusaha untuk mencari dan mempertahankan sesuatu apapun yang bersifat mutlak yang menentukan keberadaannya.

Dalam hal pendidikan esensialisme beranggapan bahwa pendidikan harus dibangun dengan nilai-nilai yang sudah ada dan  teruji kebenarannya dari waktu ke waktu.Sehingga bagi para pengikut aliran esensialisme ini pendidikan merupakan usaha manusia untuk menjaga kebudayaan. Karena kebudayaan yang telah teruji merupakan esensial yang dapat memberikan arah untuk kehidupan manusia dimasa kini dan masa yang akan datang.

Maka tujuan dari pendidikan adalah untuk memelihara kebudayaan untuk menjamin hubungan sosial yang baik dan menciptakan kesejahteraan umum. Untuk itu guru harus berperan sebagai penghubung antara kehidupan masyarakat dengan diri siswa,dalam proses pembelajarannya guru harus menekankan pada kedisiplinan dan kerja keras.